Selasa, 08 Februari 2011

Wajahnya berbeda

Ku lihat senja ini sedikit menyiratkan kesedihan. Dan tak ku sangka akan menjadi akhir yang tidak begitu berbeda dari hari-hari sebelumnya. Terdiam di sini, menatap indah sedihnya yang tergambar jelas dalam setiap jejak mentari yang semakin menghilang. Dan mengapa dia masih tersenyum? Adakah senja yang biasa-biasa ini begitu indah baginya… Tak ada satupun yang ku mengerti tentang kesedihannya, dan mungkin kebahagiaannya. Dan saat ku coba sedikit menyelami apa yang dirasakannya, hanya mentari di sana, tTak seredup senja, namun siang hari tetap lebih bisa menerangi.
Namun kenapa hari ini? Saat setiap angan hanya ada dalam belenggu kenyataan, dia bersandar dalam keharuan. Mengetuk setiap sisi terdalam dan tidak terlihat yang sangat peka dalam hati. Aku benci mengatakan ini. Tapi ada yang harus ku lakukan. Menjaganya, mungkin? menemani setiap langkah dalam gelapnya masa depan yang belum terkena cahaya. Dan bahagia, bisakah bersamanya? Karena aku benar-benar ingin bersamanya.
Dia melihatku di sana. Terdiam tanpa kata-kata, bersandar dalam keraguan, dan mungkin sedikit tidak berdaya. Hangat, saat dia menjaga matanya pada setiap isak dan air mata yang terbenam kepedihan. Aku menghargai hidupnya, dan apa yang ku lakukan hanya untuk bersamanya. Tidak selamanya, tapi mungkin sepanjang perjalanan matahari ke hari terakhirnya. Dan tidak akan terjadi, saat-saat setiap manusia hanya merasakan sedikit kepedihan.
Dan biarlah apapun, aku hanya ingin bersamanya. Menatap hangat matanya dalam setiap kehangatan. Dan wajahnya saat senja, mengiringi hati tuk menyambut malam. Serta mimpi akan kehidupan, saat pagi bersinar dan menerangi senyumnya. Cukuplah hari ini, aku ingin bersamanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar